Kamis, 05 Juni 2008

gagal jantung (CHF)

A. DEFINISI
Gagal jantung merupakan sindrom klinis yang memiliki berbagai bentuk dan gambaran klinis. Dalam mendiagnosanya, ibaratkan beberapa orang buta yang sedang meraba seekor gajah dari sisi yang berlainan.
Gagal jantung (heart failure)adalah suatu keadaan yang serius, dimana jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung) tidak mampu memenuhi kebutuhan normal tubuh akan oksigen dan zat-zat makanan.
B. ETIOLOGI
Infark miokard akut
Inflamasi miokard
Fungsi kontraksi abnormal akibat mutasi gen
Penyakit katup jantung
Hipertensi berat yang tidak diobati
C. GAMBARAN KLINIK
Gambaran klinis gagal jantung sering dipisahkan menjadi efek ke depan (forward) atau kebelakang (back ward), dengan sisi kanan dan kiri jantung sebagai titik awal pandang. Efek kedepan dianggap “hilir” dari miokardium yang melemah. Efek kebelakang dianggap “hulu” dari miokardium yang melemah.
Efek kedepan gagal jantung kiri :
Penurunan tekanan darah systemic
Kelelahan
Peningkatan kecepatan denyut jantung
Penurunan pengeluaran urine
Ekspensi volume plasma
Efek kebelakang gagal jantung kiri:
Peningkatan kongesti paru,terutama sewaktu berbaring
Dipsnea (sesak nafas)
Apabila keadaan memburuk, terjadi gagal jantung kanan
Efek kedepan gagal jantung kanan :
Penurunan aliran darah paru
Penurunan oksigenasi darah
Kelelahan
Penurunan tekanan darah sistemik (akibat penurunan pengisian jantung kiri) dan semua tanda-tanda gagal jantung kiri
Efek kebelakang gagal jantung kanan :
Peningkatan penimbunan darah dalam vena,edema pergelangan kaki dan tungkai
Distensi vena jugularis
Hepatomegali dan splenomegali
Penderita gagal jantung yang tidak terkompensasi akan merasakan lelah dan lemah jika melalukan aktivitas fisik karena otot-otot tidak mendapatkan jumlah darah yang cukup. Pembengkakan juga menyebabkan berbagai gejala, selain dipengaruhi oleh gaya gravitasi,lokasi,dan efek pembengkakan juga dipengaruhi oleh sisi jantung yang mengganggu.
Gagal jantung kanan cenderung mengakibatkan penggumpalan darah penggumpulan darah yang menyatu kebagian kanan jantung. Hal ini menyebabkan pembengkakan di kaki, pergelangan kaki, tungkai, hati, dan perut.
Ganguan jantung kiri menyebabkan pengumpulan cairan di dalam paru (edema pulmoner) yang menyebabkan sesak nafas yang hebat. Pada awalnya sesak nafas hanya terjadi saat melakukan aktivitas, tetapi sejalan dengan memburuknya penyakit, sesak nafas juga akan timbul pada saat penderita tidak melakukan aktivitas. Kadang sesak nafas terjadi pada malam hari ketika penderita sedang berbaring karena cairan bergerak kedalam paru – paru. Penderita sering terbangun dan bangkit untuk menarik nafas atau mengeluarkan bunyi mengi.
D. PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi ganguan kemampuan kontraktilitas jantung, yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal.
Frekuensi jantung adalah fungsi system saraf otonom.bila curah jantung berkurang,system saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan curah jantung. Bila mekanisme kompensasi ini gagal untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai, maka volume sekuncup jantunglah yang menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung.
Volume sekuncup, jumlah darah yang dipompa pada setiap kontriksi tergantung pada 3 faktor : preload , kontraktilitas dan afterload
Preload adalah sinonim dengan hokum Starling pada jantug yang menyatakan bahwa junlah darah yang mengisi jantung berbanding langsung dengan tekanan yang ditimbulkan oleh panjangnya regangan selaput jantung
Kontraktilitas mengacu pada perubahan kekuatan kontraksi yang terjadi pada tingkat sel dan berhubungan dengan perubahan panjang serabut jantung dan kadar kalsium
Afterload mengacu pada besarnya tekanan ventrikel yang harus dihasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan tekanan yang ditimbulkan oleh tekanan arteriole
Pada gagal jantung, jika satu atau lebih dari ketiga fakror tersebut terganggu, hasilnya curah jantung berkurang. Kemudahan dalam menentukan pengukuran hemodinamika melalui prosedur pemantauan invasif telah mempermudah diagnosa gagal jantung kongestif dan mempermudah penerapan terapi farmakologis yang efektif.
E. PATHWAY
Gagal jantung kanan

Kongesti pada jaringan perifer

Asites dan edema

Kelebihan Volume Cairan
Gagal jantung kiri

Pean CO (Cardiac Output) Kongesti di paru-paru
 
Intoleransi Aktivitas Edema pulmo

Batuk dengan sputum kental, orthopnea

Kerusakan Pertukaran Gas
F. NCP (NURSING CARE PLAN)
1. Kelebihan Volume Cairan b/d. Gangguan mekanisme pengaturan
a. Definisi
“Kondisi peningkatan retensi cairan isotonik pada seorang individu” (Wilkinson, 2007 : 180)
b. Batasan Karakteristik
Subjektif
Ansietas
Nafas dangkal / dispnea
Objektif
Bunyi napas abnormal
Edema
Oliguria
Ortopnea
Kongesti paru
c. Tujuan
Kelebihan volume cairan dapat dikurangi dibuktikan dengan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam-basa, dan indikator hidrasi yang adekuat
d. Kriteria Hasil
Pasien akan :
Mempertahankan tanda vital dalam batas normal untuk pasien
Tidak mengalami pernapasan dangkal
Hematokrit dalam batas normal (pria : 45-50 vol/100 ml dan wanita : 40-45 vol/100 ml)
e. Intervensi
Mandiri
Pantau haluaran urine, catat jumlah dan warna saat hari dimana diuresis terjadi.
Rasional : Haluaran urine mungkin sedikit dan pekat (khususnya selama sehari) karena penurunan perfusi ginjal.
Pantau/hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam
Rasional : terapi diuretik dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-tiba/berlebihan meskipun edema/asites masih ada.
Timbang berat badan tiap hari
Rasional : Catat perubahan ada/hilangnya edema sebagai respons terhadap terapi
Auskultasi bunyi napas, catat penurunan/bunyi tambahan, contoh krekles, mengi. Catat adanya dispnea, takipnea, ortopnea, dispnea nokturnal paroksimal, batuk persisten.
Rasional : kelebihan volume cairan sering menimbulkan kongesti paru. Gejala edema paru menunjukkan gagal jantung kiri akut. Gejala pernapasan pada gagal jantung kanan (dispnea, batuk, ortopnea) dapat timbul lambat tetapi lebih sulit membaik.
Ukur lingkar abdomen sesuai indikasi
Rasional : pada gagal jantung kanan lanjut, cairan dapat berpindah ke dalam area peritoneal, menyebabkan meningkatnya lingkar abdomen (asites)
Kolaborasi
1. Pemberian obat sesuai indikasi
Diuretik, contoh furosemid (lasix), bumetanide (bumex)
Rasional : meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat reabsorpsi natrium/klorida pada tubulus ginjal
Tiazid dengan agen pelawan kalium, contoh spironolakton (aldakton)
Rasional : meningkatkan diuresis tanpa kehilangan kalium berlebihan
Tambahan kalium contoh K Dur
Rasional : mengganti kehilangan kalium sebagai efek samping terapi diuretik yang dapat mempengaruhi fungsi jantung.
2. Konsul dengan ahli gizi
Rasional : perlu memberikan diet yang dapat diterima pasien yang memenuhi kebutuhan kalori dalam pembatasan natrium.
3. Pantau foto thoraks
Rasional : menunjukan perubahan indikasi peningkatan/perbaikan kongestif paru
Intoleransi aktivitas b/d. Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Definisi
”Suatu keadaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari ang diinginkan.” (Wilkinson, 2007 : 2)
Batasan Karakteristik
Subjektif
Ketidaknyamanan atau dispnea yang membutuhkan pengerahan tenaga
Melaporkan keletihan atau kelemahan
Objektif
Denyut jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respons terhadap aktivitas
Perubahan EKG selama aktivitas yang menunjukkan aritmia atau iskemia
Tujuan
Mentoleransi aktivitas yang biasa dilakukan dan ditunjukkan dengan Daya Tahan, Penghematan Energi, dan Perawatan Diri : Aktivitas kehidupan Sehari-hari.
Kriteria Hasil
Pasien akan :
Berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang dibutuhkan dengan peningkatan memadai pada denyut jantung, frekuensi respirasi, dan TD dan pola ang dipantau dalam batas normal.
Menampilkan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) dengan beberapa bantuan (misalnya, eliminasi dengan bantuan ambulasi untuk ke kamar mandi)
Intervensi
Mandiri
Periksa tanda vital sebelum dan segera setelah aktivitas, khususnya bila pasien menggunakan vasodilator, diuretik, penyekat beta.
Rasional : hipotensi ortostatik dapat terjadi dengan aktivitas karena efek obat (vasodilasi), perpindahan cairan (diuretik) atau pengaruh fungsi jantung.
Catat respons kardiopulmonal terhadap aktivitas, catat takikardi, disritmia, dispnea, berkeringat, pucat
Rasional : penurunan/ketidakmampuan miokardium untuk meningkatkan volume sekuncup selama aktivitas, dapat menyebabkan peningkatan segera pada frekuensi jantung dan kebutuhan oksigen, juga peningkatan kelelahan dan kelemahan.
Evaluasi peningkatan intoleransi aktivitas
Rasional : dapat menunjukkan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktivitas
Kolaborasi
Implementasikan program rehabilitasi jantung / aktivitas
Rasional : peningkatan bertahap pada aktivitas menghindari kerja jantung/konsumsi oksigen berlebihan.
Kerusakan pertukaran gas b/d. Perubahan membran kapiler-alveolus
Definisi
”Kelebihan dan kekurangan oksigenasi dan /atau eliminasi karbondioksida di membran kapiler-alveolar.” (Wilkinson, 2007 : 185)
Batasan Karakteristik
Subjektif
Dispnea
Sakit kepala pada saat bangun
Gangguan penglihatan
Objektif
Ketidaknormalan frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan
Diaforesis
Hipoksia
Gelisah
Takikardi
Tujuan
Gangguan pertukaran gas akan terkurangi yang dibuktikan dengan status pernapasan : Pertukaran Gas dan Status Pernapasan : Ventilasi tidak bermasalah.
Kriteria Hasil
Pasien akan :
Mempunyai fungsi paru dalam batas normal
Tidak menggunakan pernapasan mulut
Tidak mengalami napas dangkal atau ortopnea
Intervensi
Mandiri
Auskultasi bunyi napas, catat krekels, mengi
Rasional : menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan sekret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi lebih lanjut.
Anjurkan pasien batuk efektif, napas dalam
Rasional : membersihkan jalan napas dan memudahkan aliran oksigen
Pertahankan duduk di kursi/tirah baring dengan kepala tempat tidur tinggi 20-30 derajat, posisi semifowler. Sokong tangan dengan bantal.
Rasional : menurunkan oksigen/kebutuhan dan meningkatkan inflamasi paru maksimal.
Kolaborasi
Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang dapat memperbaiki/menurunkan hipoksemia jaringan.
Berikan obat sesuai indikasi :
Diuretik contoh furosemid (Lasik)
Rasional : menurunkan kongesti alveolar, meningkatkan perttukaran gas
Bronkodilator contoh aminofilin
Rasional : meningkatkan aliran oksigen dengan mendilatasi jalan napas kecil dan mengeluarkan efek diuretik ringan untuk menurunkan kongesti paru.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E., dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC.
Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. 1993. Proses Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 7. Jakarta : EGC.
www.medicastore.com

Selasa, 03 Juni 2008

RJP pada BAYI


Untuk anak kecil hanya dipakai sate Langan, untuk bayi hanya dipakai ujung
telunjuk dan jari tengah.

Ventrikel bayi dan anak kecil terletak lebih tinggi dalam
rongga dada, jadi tekanan hams dilakukan di bagian tengah tulang dada.

Bahaya
robeknya hati lebih besar pads anak karena dada lebih lunak dan hati terletak lebih tinggi di bawah tulang dada bawah dan xifoid.

Tekanan : Pada bayi 1 ­ 2 cm,
pada tulang dada, anak kecil 2 ­ 4 cm.

Jumlah kompresi : antara 80 ­ 100 kali/
menit dengan napas buatan secepat mungkin tiap 5 kali kompresi.
Penarikan kepala bayi dan anak ke belakang akan mengangkat punggung-
nya.

Jadi bilamelakukan kompresi maka punggung si anak hams diganjal dengan
Langan, sedang Langan yang lain melakukan kompresi jantung.

Senin, 02 Juni 2008

defibrillasi





DEFIBRILASI
Defibrilasi adalah pengobatan yang menggunakan aliran listrik dalam waktu yang singkat secara asinkron. Bila urat nadi di pergelangan tangan disentuh, Anda akan merasakan denyut yang bergerak ritmis. Denyut itu memperlihatkan gerakan bilik jantung. Setiap hari bilik jantung selalu berdenyut untuk memompakan darah ke seluruh tubuh. Denyut yang dirasakan bergerak normal dan ritmis. Pada satu kondisi tertentu denyutnya bisa berubah cepat dan tak mengindahkan irama normalnya. Ini terjadi pada kasus penyakit jantung. Kasus tersebut diistilahkan dengan fibrilasi.
Pada fibrilasi, frekuensi denyut jantungnya sulit dihitung. Kasus ini bisa terjadi pada serambi jantung (fibrilasi atrium) dan pada bilik jantung (fibrilasi ventrikel). Kondisi ini timbul karena adanya impuls listrik sangat cepat dan tak teratur. Akibatnya, denyut atrium maupun ventrikel (bilik utama jantung) menjadi sangat cepat dan tak teratur. Fibrilasi atrium disebabkan oleh gangguan katup jantung pada demam reumatik, atau gangguan aliran darah seperti yang terjadi pada penderita aterosklerosis. Gejalanya meliputi lemah, pucat, mual, berdebar-debar, dan disertai shocked.
Fibrilasi ventrikel disebabkan oleh kematian otot jantung, anestesi umum, atau keracunan obat-obatan. Ini bisa menyebabkan kematian mendadak. Untuk mengatasi kedua jenis fibrilasi tersebut, maka para dokter biasanya melakukan defibrilasi. Ini merupakan tindakan mengembalikan denyut jantung ke irama semula. Defibrilasi merupakan tindakan darurat, seperti dengan cara memberikan kejutan listrik terhadap jantung. Kalau defibrilasi diberikan pada pasien ketika masih dalam kurun waktu satu menit sejak timbulnya fibrilasi, maka sekitar 90 persen penderita akan tertolong.

Indikasi


  1. VF

  2. VT tanpa nadi

  3. VT polymorphyc yang tidak stabil

Defibrilasi harus dilakukan sedini mungkin dengan alasan :


1. Irama yang didapat pada permulaan henti jantung umumnya adalah ventrikel fibrilasi (VF)


2. Pengobatan yang paling efektif untuk ventrikel fibrilasi adalah defibrilasi.


3. Makin lambat defibrilasi dilakukan, makin kurang kemungkinan keberhasilannya.


4. Ventrikel fibrilasi cenderung untuk berubah menjadi asistol dalam waktu beberapa menit.
Alat yang dipergunakan


1. DefibrilatorDefibrilator adalah alat yang dapat memberikan shock listrik dan dapat menyebabkan depolarisasi sementara dari jantung yang denyutnya tidak teratur, sehingga memungkinkan timbulnya kembali aktifitas listrik jantung yang terkoordinir. Enerji dialirkan melalui suatu elektrode yang disebut paddle. Defibrilator diklasifikasikan menurut


2 tipe bentuk gelombangnya yaitu monophasic dan biphasic. Defibrilator monophasic adalah tipe defibrilator yang pertama kali diperkenalkan, defibrilator biphasic adalah defibrilator yang digunakan pada defibrilator manual yang banyak dipasarkan saat ini.2. JeliJeli digunakan untuk mengurangi tahanan dada dan membantu menghantarkan aliran listrik ke jantung, jeli dioleskan pada kedua paddle.EnergiUntuk VF dan VT tanpa nadi, energi awal 360 joule dengan menggunakan monophasic deflbrilator, dapat diulang tiap 2 menit dengan energi yang sama, jika menggunakan biphasic deflbrilator energi yang diperlukan berkisar antara 120 - 200 joule.


Prosedur defibrilasi


1. Nyalakan deflbrilator


2. Tentukan enerji yang diperlukan dengan cara memutar atau menggeser tombol enerji


3. Paddle diberi jeli secukupnya.


4. Letakkan paddle dengan posisi paddle apex diletakkan pada apeks jantung dan paddle sternum diletakkan pada garis sternal kanan di bawah klavikula.


5. Isi (Charge) enerji, tunggu sampai enerji terisi penuh, untuk mengetahui enerji sudah penuh, banyak macamnya tergantung dari defibrilator yang dipakai, ada yang memberi tanda dengan menunjukkan angka joule yang diset, ada pula yang memberi tanda dengan bunyi bahkan ada juga yang memberi tanda dengan nyala lampu.


6. Jika enerji sudah penuh, beri aba-aba dengan suara keras dan jelas agar tidak ada lagi anggota tim yang masih ada kontak dengan pasien atau korban, termasuk juga yang mengoperatorkan defibrilator, sebagai contoh:"Enerji siap ""Saya siap ""Tim lain siap"


7. Kaji ulang layar monitor defibrillator, pastikan irama masih VF/VT tanda nadi, pastikan enerji sesuai dengan yang diset, dan pastikan modus yang dipakai adalah asinkron, jika semua benar, berikan enerji tersebut dengan cara menekan kedua tombol discharge pada kedua paddle. Pastikan paddle menempel dengan baik pada dada pasien (beban tekanan pada paddle kira-kira 10 kg).


8. Kaji ulang di layar monitor defibrilator apakah irama berubah atau tetap sama scperti sebelum dilakukan defibrilasi, jika berubah cek nadi untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan RJP, jika tidak berubah lakukan RJP untuk selanjutnya lakukan survey kedua.


Automated External Defibrilator (AED)AED adalah sebuah defibrilator yang bekerja secara komputer yang dapat :


1. Menganalisa irama jantung seorang korban yang mengalami henti jantung.


2. Mengenal irama yang dapat dilakukan tindakan defibrilasi ( shock)


3. Memberikan petunjuk pada operator ( dengan memperdengarkan suara atau dengan indikator cahaya)


AED digunakan jika korban mengalami henti jantung :
1. Tidak berespon


2. Tidak bernafas


3. Nadi tidak teraba atau tanda - tanda sirkulasi lainElektroda adhesif ditempatkan pada dada korban dan disambungkan ke mesin AED,


paddle elektroda mempunyai 2 fungsi yaitu :


1. Menangkap sinyal listrik jantung dan mengirimkan sinyal tersebut ke komputer.2


. Memberikan shock melalui elektroda jika terdapat indikasi.B. KARDIOVERSIKardioversi adalah pengobatan yang menggunakan aliran listrik dalam waktu singkat secara sinkron.


Indikasi


1. Ventrikel Takikardi


2. Supra Ventrikel Takikardi


3. Atrial flutter


4. Atrial FibrilasiAlat yang dipergunakan1. Defibrilator yang mempunyai modus sinkron2. Jeli3. Troli emergensi, terutama alat bantu napas4. Obat-obat analgetik dan sedatif


5. Elektrode EKGEnergiEnerji awal untuk SVT dan Atrial Flutter adalah 50 joule, apabila tidak berhasil enerji dapat dinaikan menjadi 100 joule, 200 joule, 300 joule dan 360 joule.


Untuk VT monomorphic dan Atrial Fibrilasi, enerji awal adalah 100 jule dan dapat dinaikan sampai 360 joule.Sedangkan untuk VT polymorphic besarnya energi dan modus yang dipakai sama dengan yang digunakan pada tindakan defibrilasiProsedurProsedur tindakan kardioversi sama dengan tindakan deflbrilasi, hanya pada saat menekan tombol discharge kedua tombol tersebut harus ditekan agak lama, karena modul yang dipakai adalah modul sinkron dimana pada modul ini energi akan dikeluarkan (diberikan ) beberapa milidetik setelah defibrilator tersebut menangkap gelombang QRS. jika deflbrilator tidak dapat menangkap gelombang QRS enerji tidak akan keluar. Pasien dengan takikardi walaupun mungkin keadaannya tidak stabil akan tetapi kadang pasiennya masih sadar, oleh sebab itu jika diperlukan tindakan kardioversi, maka pasien perlu diberikan obat sedasi dengan atau tanpa analgetik.


RSPJHK : Standar ACLS (2005)

TETRALOGI FALLOT
A. DEFINISI
Tetralogi Fallot adalah gabungan dari: - Defek septum ventrikel (lubang diantara ventrikel kiri dan kanan) - Stenosis katup pulmoner (penyempitan pada katup pulmonalis) - Transposisi aorta - Hipertrofi ventrikel kanan (penebalan otot ventrikel kanan).
B. PENYEBAB
Kebanyakan penyebab dari kelainan jantung bawaan tidak diketahui. Biasanya melibatkan berbagai faktor. Faktor prenatal yang berhubungan dengan resiko terjadinya tetralogi Fallot adalah: - Selama hamil, ibu menderita rubella (campak Jerman) atau infeksi virus lainnya - Gizi yang buruk selama hamil - Ibu yang alkoholik - Usia ibu diatas 40 tahun - Ibu menderita diabetes. Tetralogi Fallot lebih sering ditemukan pada anak-anak yang menderita sindroma Down. Tetralogi Fallot dimasukkan ke dalam kelainan jantung sianotik karena terjadi pemompaan darah yang sedikit mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga terjadi sianosis (kulit berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas. Mungkin gejala sianotik baru timbul di kemudian hari, dimana bayi mengalami serangan sianotik karena menyusu atau menangis. Tetralogi Fallot terjadi pada sekitar 50 dari 100.000 bayi dan merupakan kelainan jantung bawaan nomor 2 yang paling sering terjadi.
C. GEJALA
Gejalanya bisa berupa: - bayi mengalami kesulitan untuk menyusu - berat badan bayi tidak bertambah - pertumbuhan anak berlangsung lambat - perkembangan anak yang buruk - sianosis - jari tangan clubbing (seperti tabuh genderang karena kulit atau tulang di sekitar kuku jari tangan membesar) - sesak nafas jika melakukan aktivitas - setelah melakukan aktivitas, anak selalu jongkok. Serangan sianosis biasanya terjadi ketika anak melakukan aktivitas (misalnya menangis atau mengedan), dimana tiba-tiba sianosis memburuk sehingga anak menjadi sangat biru, mengalami sesak nafas dan bisa pingsan.
D. DIAGNOSA
Pada pemeriksaan dengan stetoskop biasanya akan terdengar murmur (bunyi jantung yang abnormal). Pemeriksaan yang biasa dilakukan: - EKG - Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel darah merah dan hematokrit - Rontgen dada menunjukkan ukuran hati yang kecil - Kateterisasi jantung - Ekokardiogram.
E. PENGOBATAN
Pada serangan sianosis, diberikan oksigen dan morfin. Untuk mencegah serangan lainnya, untuk sementara waktu bisa diberikan propanolol. Pembedahan untuk memperbaiki kelainan jantung ini biasanya dilakukan ketika anak berumur 3-5 tahun (usia pra-sekolah). Pada kelainan yang lebih berat, pembedahan bisa dilakukan lebih awal. Pembedahan yang dilakukan terdiri dari 2 tahap:
1. Pembedahan sementara Pembuatan shunt bisa terlebih dahulu dilakukan pada bayi yang kecil dan sangat biru, agar aliran darah ke paru-paru cukup. Shunt dibuat diantara aorta dan arteri pulmonalis. Setelah bayi tumbuh cukup besar, dilakukan pembedahan perbaikan untuk menutup kembali shunt tersebut.
2. Pembedahan perbaikan terdiri dari: - penutupan VSD - pembukaan jalur aliran ventrikel kanan dengan cara membuang sebagian otot yang berada di bawah katup pulmonalis - perbaikan atau pengangkatan katup pulmonalis - pelebaran arteri pulmonalis perifer yang menuju ke paru-paru kiri dan kanan. Kadang diantara ventrikel kanan dan arteri pulmonalis dipasang sebuah selang (perbaikan Rastelli).
Jika tidak dilakukan pembedahan, penderita biasanya akan meninggal pada usia 20 tahun. Orang tua dari anak-anak yang menderita kelainan jantung bawaan bisa diajari tentang cara-cara menghadapi gejala yang timbul:
Menyusui atau menyuapi anak secara perlahan
Memberikan porsi makan yang lebih kecil tetapi lebih sering
Mengurangi kecemasan anak dengan tetap bersikap tenang
Menghentikan tangis anak dengan cara memenuhi kebutuhannya
Membaringkan anak dalam posisi miring dan kaki ditekuk ke dada selama serangan sianosis.